Categories: Artikel Leave a comment

Ajaran Jihad = Radikalisme?

Mengajarkan dan menjelaskan peperangan dan jihad bukan berarti mengajarkan sikap radikal kepada anak-anak dan kaum muslimin. Perhatikan bagaimana generasi terbaik dahulu, mereka mengajarkan kepada anak-anak mereka sirah, sejarah dan pemerangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib – Zainul ‘Abidin- berkata,

كنا نعلم مغازي النبي صلى الله عليه و سلم وسراياه كما نعلم السورة من القرآن

Dulu kami diajarkan tentang (sejarah) peperangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana al-Qur’an diajarkan kepada kami” [Al-Jaami’ li akhlaaqir raawi 2/195]

Kita tahu bagaimana dahulu para Sahabat belajar dan mengajarkan al-Quran, yaitu belajar setiap 10 ayat dan tidak akan lanjut pelajaran apabila belum paham. Demikian juga peperangan, jihad dan sirah yang diajarkan kepada anak-anak mereka, tentu diajarkan dengan rinci, detail dan sesuai dengan hikmah. Tidak didapatkan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang radikal dan mengajarkan kekerasan, kekejaman dan kedzaliman.

Ibrah dalam Setiap Perjuangan Para Pahlawan
Dahulu kita juga belajar perang-perang kemerdekaan seperti “perang ambarawa, perang surabaya dll”, bahkan beberapa koran memberitakan sebagai peperangan jihad kaum muslimin di Indonesia melawan penjajah. Peperangan ini diajarkan dalam sejarah Indonesia kepada anak-anak Indonesia, akan tetapi tidak muncul perasaan ingin menyerang negara lain atau perasaan ingin membalas dendam pada negara yang dahulu pernah menjajah Indonesia (kami perlu tekankan bahwabukan Arab yang menjajah indonesia, tapi oknum tertentu sangat benci banget dengan Arab, alias ‘alasan’ ngeles untuk benci Islam

Mengajarkan peperangan dan jihad dalam Islam juga bukan untuk jadi radikal tetapi mengambil ibrah kepahlawanan dan perjuangan dalam Islam. Secara umum demikianlah kisah-kisah sejarah diceritakan agar kita dapat mengambil ibrah dan pelajaran.

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُون

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi ‘alaihis salamdan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat). Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Yusuf: 111).

Semangat Belajar Sejarah Islam
Para ulama dahulu sangat senang dengan pelajaran sejarah, sirah dan peperangan. Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata,

الحكايات عن العلماء ومجالستهم أحب إلي من كثير من الفقه؛ لأنها آداب القوم وأخلاقهم

Kisah-kisah (keteladanan) para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai dari pada kebanyakan (masalah-masalah) fikh, karena kisah-kisah tersebut (berisi) adab dan tingkah laku mereka (untuk diteladani)” [Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi, I/509 no.819]

Demikian, semoga bermanfaat. (*)

Sumber:  https://muslim.or.id/53291-mengajarkan-peperangan-dan-jihad-bukan-berarti-mengajarkan-radikal.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pendaftaran Santri Baru Tahun Ajaran 2021/2022 Telah Dibuka!

Berminat Mendaftar? Siapkan:

1. Bukti transfer biaya pendaftaran (150.000,00). transfer ke Rekening Mandiri : 138 0059 000 59 1  a.n. Yayasan Dhiya’ Al-Quran. Konfirmasi Pembayaran ke 081 228 500 600.

2. Foto berwarna ukuran 2×3 (2 lembar) dan ukuran 3×4 (2 lembar)

3. Scan FC Kartu Keluarga, FC Akta Kelahiran, dan FC Rapor terakhir (mulai dari kelas 4 hingga rapor terakhir). Bila tidak memungkinkan, cukup Scan FC kartu keluarga.

*Untuk kelas Aliyah (MA), santri harus punya hafalan minimal 25 Juz.*

Daftar Di Sini